Khutbah Idul Adha: Teladan Ibrahim, Sunnatullah dalam Mendakwahkan Islam
Khutbah Idul Adha :
Teladan Ibrahim,
Sunnatullah dalam Mendakwahkan Islam
الْحَمْدُ لِلَّهِ
الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا
اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ
الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
وَأَشْهَدُ أَن لاَّ
إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى
فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ
الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَإِنَّ أَصْدَقَ
الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ
الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الحَمْدُ
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Hari raya Idhul Adha adalah momen yang paling tepat
merefleksikan kisah-kisah Nabi Ibrahim as. Kekasih Allah dan bapaknya para
Nabi. Teladan dalam pengorbanan, teladan dalam dakwah, teladan dalam keteguhan
dan teladan dalam ketaatan.
Ketika kita membaca firman Allah SWT yang berbunyi :
أَلَا إِنَّ
أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus 62)
Maka salah satu sosok yang bisa kita teladani sebagai wali Allah
yang tidak merasakan khawatir dan juga tidak bersedih atas apa yang
menimpanya di jalan Allah adalah Nabi Ibrahim as.
Nabi Ibrahim adalah pembawa risalah kebenaran satu-satunya pada
masa itu. Seluruh kaumnya berbuat syirik kepada Allah, ada yang menyembah
bintang-bintang dan ada pula yang menyembah berhala dan bapak Nabi Ibrahim
termasuk dari orang yang menyembah berhala.
Dakwah pertama yang dilakukan Nabi Ibrahim as adalah menyeru
bapaknya kepada agama tauhid, agar bapaknya mau mengikuti kebenaran yang dibawa
oleh Ibrahim as.
Allah SWT mengisahkan dakwah Ibrahim kepada bapaknya.
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ
يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ
شَيْئًا
Artinya, “Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku,
mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak
dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS Maryam : 42)
Namun ajakan Ibrahim kepada bapaknya untuk bertauhid, menjadikan
Allah sebagai satu-satunya Dzat yang disembah, ditaati dan diikuti aturannya
berbuah ancaman dan kemarahan dari sang ayah. Allah SWT berfirman:
قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ
عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ
وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
Artinya, “Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai
Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan
tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS Maryam : 46)
Meskipun mendapat penolakan dari bapaknya, Ibrahim muda tidak
patah arang. Dia terus memberikan argumentasi-argumentasi yang mematikan dan
membuat orang-orang kafir mati kutu atas argumentasi yang disampaikan oleh
Ibrahim.
Dan puncak dari itu semua adalah ketika Ibrahim as dengan gagah
berani menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya dan menyisakan berhala
yang paling besar serta mengalungkan kapak kepada berhala yang paling besar.
Nabi Ibrahim memahami betul resiko yang dia hadapi atas
perbuatannya. Kemurkaan serta kemarahan dari kaumnya tidak akan terhindarkan.
Akan tetapi Nabi Ibrahim tetap melakukan hal tersebut untuk memberikan pesan
yang jelas dan nyata kepada kaumnya bahwa peribadatan kepada patung-patung yang
mereka lakukan adalah suatu kebatilan dan prilaku yang tidak bisa diterima oleh
akal sehat manusia.
Namun fanatisme buta kaumnya terhadap sesembahan mereka membuat
nalar mereka mati, akal tidak lagi berpikir secara logis dan rasional. Kita
saksikan bagaimana Al-Quran mengabadikan dialog mereka di dalam Al-Quran ketika
mengetahui sesembahan mereka hancur lebur. Allah mengisahkan pertanyaan mereka:
قَالُوا مَنْ فَعَلَ
هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ
Artinya, “Mereka berkata, siapa yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan
kami. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat zalim.” (QS Al-Anbiya’ : 59)
Mari kita simak dengan benar pertanyaan mereka, “Siapakah yang
melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami?” Kalau seandainya sesembahan mereka
itu tuhan yang layak disembah, maka bagaimana mungkin tuhan tersebut membiarkan
seorang anak muda menghancurkannya? Sebuah pernyataan yang secara otomatis
membantah kesyirikan mereka.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Merekapun sepakat bahwa yang melakukan ini pastilah Ibrahim.
Sehingga mereka menyidang Nabi Ibrahim di hadapan khalayak ramai. Ketika mereka
menghadirkan Ibrahim, mereka bertanya, apakah engkau yang melakukan ini terhadap
tuhan-tuhan kami?
Nabi Ibrahim kembali menyampaikan kebatilan cara berpikir
mereka, Nabi Ibrahim kembali menjelaskan dengan cermat bahwa apa yang mereka
sembah selain Allah adalah sebuah kebatilan yang nyata.
Nabi Ibrahim berkata :
قَالَ بَلْ فَعَلَهُ
كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ
Artinya, “Ibrahim berkata, “Sebenarnya yang melakukannya adalah patung
yang besar ini. Silahkan tanyaka kepadanya jika seandainya mereka mampu
berbicara.” (QS Al-Anbiya’ :
63)
Nabi Ibrahim kembali membuat mereka mati kutu. Sebuah jawaban
yang meluluh-lantakkan pondasi kesyirikan mereka. Silahkan tanya tuhan-tuhan
kalian, jika mereka bisa berbicara? Sebuah jawaban yang mebuat mulut mereka
terbungkam.
Jangankan untuk dijadikan tuhan, untuk dijadikan budak saja
mereka tidak layak. Ketika seseorang akan membeli budak, dan dia dihadapkan
kepada dua budak, yang satu bisu sedangkan yang satunya bisa berbicara, maka
tentunya dia akan memilih yang bisa berbicara. Nah untuk memilih budak saja
seseorang mengutamakan yang bisa berbicara, lantas bagaimana mungkin seseorang
memilih tuhan yang tidak bisa berbicara.
Setelah mereka mengakui bahwa apa yang mereka sembah tidak mampu
berbicara, Nabi Ibrahim kembali menyerang pondasi mereka dengan bertanya:
قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ
مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ
Artinya, “Nabi Ibrahim berkata, “Apakah kalian beribadah kepada selain
Allah yang mana (sembahan selain Allah) tidak bisa mmberikan manfaat sedikitpun
kepada kalian dan juga tidak bisa mendatangkan madhorot kepada kalian.” (QS Al-Anbiya’ : 66)
Setelah mereka tahu bahwa pondasi-pondasi kebatilan mereka
diruntuhkan oleh argumentasi demi argumentasi yang diberikan oleh Nabi Ibrahim,
mereka kemudian berlaku sewenang-wenang terhadap Nabi Ibrahim.
Hal ini adalah cara yang dilakukan oleh para pengusung kebatilan
dari masa ke masa. Ada Firaun yang ketika kalah dalam berdialog dengan Musa,
Firaun menggunakan kekuasaannya untuk mengintimidasi Musa. Ketika kafir Quraisy
kehabisan cara menghentikan arus Islamisasi yang terjadi di Mekkah, mereka
mulai mengintimidasi dan menyiksa setiap orang yang berdiri di barisan
kebenaran.
Inilah yang terjadi kepada sang kekasih Allah Nabi Ibrahim, raja
Namrud memerintahkan untuk membakar Ibrahim. Persekusi terhadap satu-satunya
ahli tauhid masa itu. Seluruh manusia mempersekusinya, bahkan bapaknya berdiri
di barisan kekufuran dan kesyirikan.
Seluruh masyarakat ketika itu mendukung keputusan untuk membakar
nabi Ibrahim, bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat seorang wanita yang sakit,
dalam keadaan sakitnya berazam untuk memberikan kontribusi dalam membakar
Ibrahim.
Dia berkata:
لَئِن عَافَانِي الله
لَأجْمَعَنّ حَطَبًا لإبراهيمَ
Artinya, “Jika Allah memberikanku kesembuhan, maka pasti saya akan ikut
mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Ibrahim.”
Perkataan wanita ini menggambarkan betapa besarnya permusuhan
mereka terhadap dakwah yang dibawa oleh Nabi Ibahim. Dakwah yang mengokohkan
pondasi tauhid, dakwah yang membuat murka para pelaku kekufuran, dakwah yang berupaya
menundukkan manusia terhadap aturan yang Allah tetapkan bagi manusia.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Inilah tabiat dakwah dan para pengusungnya. Tidak ada seorang
yang mewakafkan dirinya untuk berdakwah, mewakafkan dirinya untuk berjuang
menegakkan agama Allah, melainkan mereka akan mendapat gangguan dan teror
secara verbal, mental maupun fisik. Bisa kita bayangkan bagaimana mencekamnya
kondisi yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim ketika itu, ketika seluruh manusia
memusuhinya, ketika kaumnya mempersekusinya dan tidak ada yang berpihak
kepadanya seorangpun.
Mereka bersiap membakar nabi Ibrahim, kayu-kayu dikumpulkan,
menara sebagai tempat pembakaran dipersiapkan, lubang yang dalam di bawah
menara juga digali. bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa tidaklah
burung terbang di atas kobaran api tersebut melainkan akan mati terpanggang.
Prosesi pembakaran sang kekasih Allah dimulai. Ketika Nabi
Ibrahim dilemparkan ke dalam api, maka semua makhluk Allah, bumi, langit dan
para malaikat memohon kepada Allah.
يَا رَبِّ ، خَلِيلُكَ
يُلْقَى فِي النَّارِ ، فَأْذَنْ لَنَا نُطْفِئْ عَنْهُ ، قَالَ : هُوَ خَلِيلِي ،
لَيْسَ لِي فِي الأَرْضِ خَلِيلٌ غَيْرُهُ ، وَأَنَا رَبُّهُ ، لَيْسَ لَهُ رَبٌّ
غَيْرِي ، فَإِنِ اسْتَغَاثَ بِكُمْ فَأَغِيثُوهُ ، وَإِلا فَدَعُوهُ
Artinya, “Wahai Rabbku, kekasih-Mu dilemparkan ke dalam api, maka izinkan
kami untuk membantu memadamkan api untuknya. Allah menjawab, “Dia adalah
kekasih-Ku dan tidak ada di bumi (pada waktu itu) kekasih-Ku selain dirinya dan
Saya adalah Rabb-nya dan tidak ada Rabb yang ia miliki selain Diriku. Jika dia
meminta tolong kepada kalian, maka bantulah dia, namun jika tidak maka biarkan
saja dia.” (HR Ahmad)
Ada sebuah momen menarik yang diceritakan oleh Ibnu Jarir
Ath-Thobari ketika Nabi Ibrahim dibakar, penghulu malaikat Jibril as, terlihat
menampakkan wujudnya di hadapan Nabi Ibrahim. Jibril bertanya kepada Ibrahim:
يَا إِبْرَاهيم أَلَكَ
حَاجَةٌ؟ قال: أمَّا إِلَيْكَ فَلَا أَمّا إلى الله فَنَعَمْ
Artinya, Wahai Ibrahim, apakah kamu membutuhkanku?
Ibrahim menjawab, “Kepadamu wahai Jibril, maka saya tidak membutuhkannya,
adapun kepad Allah, maka sudah pasti saya membutuhkannya.”
Sebuah jawaban yang menggambarkan kuat dan kokohnya pemahaman
Ibrahim terhadap Allah yang menjadi tempat bergantung. Nabi Ibrahim tidak ingin
bersandar kepada selain Allah, Nabi Ibrahim tahu betul bahwa Allah adalah
satu-satunya Dzat yang mampu menolongnya. Inilah puncak tawakkal, inilah puncak
iman dan inilah puncak penghambaan kepada Allah. Meskipun jika sebenarnya
Ibrahim mengiyakan tawaran Jibril, hal itu tidaklah mengapa, karena Jibril
tidaklah mampu menolong Ibrahim kecuali atas izin dari Allah. Akan tetapi Nabi
Ibrahim menginginkan tempat yang mulia di sisi Allah.
Inilah wali Allah, persekusi manusia, kobaran api yang tinggi,
kemarahan penguasa tidak menyurutkan langkah beliau untuk tetap teguh di jalan
Allah, sama sekali tidak bergeser, tiada ketakutan pada diri Nabi Ibrahim,
karena beliau yakin Allah bersamanya.
Bahkan momen ini menjadi momen terbaik dalam hidup Nabi Ibrahim,
momen yang dalam pandangan manusia adalah momen yang menakutkan, namun bagi
Nabi Ibrahim ini adalah momen terindah di dalam hidupnya. Momen di mana beliau
merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Allah, momen ketika beliau berada di
puncak keyakinan terhadap Allah.
Hal ini tergambar dalam ungkapan Nabi Ibrahim, beliau berkata:
مَا كُنْتُ أَيّامًا
قَطّ أَنْعَمُ مِنّي مِنَ الأَيّامِ الّتِي كُنْتُ فِيهَا فِي النّارِ
Artinya, “Tidak pernah saya melewati hari-hari yang paling indah (dalam
hidup saya) melebihi hari di mana saya dibakar oleh api.”
Sebuah ungkapan ajaib yang hendaknya diteladani oleh para
pejuang Islam, yang harus diresapi oleh mereka yang bergerak meninggi
panji Lailaha Illallah di muka bumi. Keteladanan ini juga dicontohkan oleh Nabi
Muhammad SAW, ketika beliau bersama Abu Bakar terperangkap di gua Tsur dan
orang-orang Quraisy mencari-cari mereka berdua.
Ketika keduanya dalam kejaran orang-orang Kafir Quraisy, seluruh
daya upaya dilakukan Quraisy guna mencegah mereka berdua hijrah. Dalam kondisi
itu mereka berdua terpaksa menginap di gua Tsur. pada momen seperti itu di saat
orang Quraisy berada di pintu gua, kondisi cukup mencekam Abu Bakar berkata
kepada Nabi Muhammad SAW
لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ
نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ لأَبْصَرَنَا . فَقَالَ : مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا
بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا
Artinya, “Kalau seandainya salah seorang di antara mereka mlihat
ke bawah kakinya niscaya mereka akan melihat kita. Maka Nabi Muhammad SAW
menjawab, “Apa pendapatmu wahai Abu Bakar tentang dua orang dan Allah yang
menjadi ketiganya.” (HR Bukhori)
Beginilah ketenangan menghampiri para wali Allah, hal ini tidak
lain dan tidak bukan karena hati mereka selalu terpaut dengan Allah. Adalah
Nabi Ibrahim ketika beliau dibakar oleh kaumnya beliau berdoa kepada Allah:
اللّهُمَّ أَنْتَ
الوَاحِد في السَمَاءِ، وَأَنَا الوَاحِدُ فِي الأَرْضِ لَيْسَ فِي الأَرْضِ
أَحَدٌ يَعْبُدُكَ غَيْرِي، حَسْبِيَ الله ونِعْمَ الوَكِيل
Artinya, “Ya Allah engkau adalah Dzat yang Maha Esa di langit, dan saya
sendirian di bui, tidak ada di bumi ini seorang hamba yang beribadah kepada-Mu
selainku, Cukuplah Allah bagiku dan Allah sebaik-baik pelindung.”
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Inilah teladan Nabi Ibrahim, sebuah keteladanan yang diwariskan
kepada para pengikutnya, keledanan yang mendapat rekomendasi dari Allah dan
dimuat di dalam media abadi bernama Al-Quran.
Keteladanan dalam membela agama Allah, mendakwahkan tauhid, dan
menerima segala resiko di jalan itu. tanpa sedikitpun mengeluh, tanpa
sejengkalpun mundur dan menerima seluruh konsekuensi perjuangan dengan lapang
dada dan ikhlas. Karena beliau paham bahwa Allah selalu bersamanya. Dan hal
inilah yang senantiasa membuat para wali Allah tidak pernah takut dan khawatir
atas apa yang menimpa mereka dalam menegakkan agama Allah.
Syaikh Abdullah Azzam dalam sebuah ceramahnya menekankan bahwa
dakwah dan jihad menegakkan Islam tidaklah mudah. Beliau berkata:
طَرِيْقُ الدَّعَوَاتِ
مَحْفُوفٌ بِالمَكَارِه ، مَلِيءٌ بِالمَخَاطِر ، سُجُونٌ وَقَتْلٌ وَتَشْرِيْدٌ
فَمَنْ أَرَادَ أن يَحْمِلَ مَبْدَاءً أو يُبِلّغَ دعوةً فَلْيَضَعْ فِي حِسَابِهِ
هذه , ومَنْ أَرَادَهَا نُزْهَةً مُمْتِعَةً وَكَلِمَةً طَيِّبَةً ومَهْرَجَانًا
حَافِلاً وخُطْبَةً نَاصِعَةً فِي كَلِمَاتِها فَلْيُرَاجِعْ سِجِلّ الرُسُلِ
والدّعَاةِ مِنْ أَتْبَاعِهِمْ مُنْذُ أَنْ جَاءَ هَذَا الدّيْنُ بَلْ مُنْذُ أَنْ
بُعِثَ الرُّسُلُ صَلَوَاتُ الله عَلَيْهِمْ وإٍلَى يَوْمنَا هَذا
Artinya, “Jalan dakwah dipenuhi oleh hal-hal yang tidak
disukai jiwa, dipenuhi oleh mara bahaya. Resiko dipenjara, dibunuh,
diusir dan diasingkan. Barangsiapa yang ingin memegang teguh prinsip atau
menyampaikan dakwah, hendaklah dia mempersiapkan diri untuk menerima
resiko-resiko ini. Akan tetapi barangsiapa yang (dalam jalan dakwah ini)
menginginkan rekreasi yang menyenangkan, kata-kata yang baik, pesta yang ramai,
khutbah yang meriah, maka silahkan baca kembali catatan sejarah para rasul dan
para penyeru kebenaran, sejak datangnya agama ini, bahkan sejak diutusnya para
Rasul ke muka bumi.”
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Semoga dengan mengambil teladan dari kekasih Allah Nabi Ibrahim,
kita terinspirasi untuk menjadi hamba Allah yang hati, lisan dan perbuatannya
selalu terikat dengan Allah. Sehingga apapun yang menimpa kita di dunia karena
berpegang teguh kepada agama Allah tidak membuat kita bersedih hati dan
khawatir karena kita bersama Dzat yang Maha Agung, kita bersama Dzat yang Maha
Besar. Maka tidak ada cara bagi kita untuk mendapatkan ketengangan melainkan
dengan mengisi kekosongan hati dan pikiran kita dengan ketergantungan kepada
Allah SWt.
Mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ
عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ
خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى
يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ
عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ
اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Naskah khutbah Idul Adha 1439 H. ini ditulis oleh Ust. Miftahul
Ihsan, Lc, dan diunduh dari situs www.kiblat.net



Komentar
Posting Komentar