Dua Guru YP Shafiyyatul Amaliyyah Digebuki Orangtua


 
Syahyudi, Guru Agama Islam SMA YPSA memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Tim Pembela Guru dan Dosen.

Asahan Cerdas. Dunia pendidikan Indonesia kembali tercoreng. Kali ini terjadi di Kota Medan, tepatnya di Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyaah (YPSA), Jalan Setiabudi, No.191, Medan.

Dua orang guru di sekolah tersebut, Cindy Claudyana Sembiring K (23), wali kelas XI sekaligus Guru Bahasa Arab dan Syahyudi (38), Guru Agama Islam, digebuki dr Ditriana, warga Komplek Puri, Tanjung Sari, No.43, Kelurahan Tanjung Sari, Medan Selayang. Ditriana merupakan ibu kandung MHS (17), siswa kelas XI YPSA.

Dalam penganiayaan yang terjadi di ruang Kepala Sekolah (Kasek) SMA YPSA, Bagoes Maulana, Kamis (4/10) pagi lalu, ayah MHS, Arindo Ruslan juga turut serta. Keikutsertaan Arindo Ruslan adalah melakukan provokasi.

Tidak hanya dr Ditriana dan suaminya, Arindo Ruslan, paman MHS, Driefman juga terlibat dalam penganiayaan terhadap kedua guru YPSA tersebut.

Perlu diketahui pula, kedua orangtua MHS, dr Ditriana dan Arindo Ruslan merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Langkat. Ditriana bertugas di Dinas Kesehatan (Dinkes) Langkat, sedangkan Arindo Ruslan disebut-sebut merupakan Sekretaris di Badan Arsip Kabupaten Langkat.

Akibat penganiayaan itu, baik Cindy maupun Syahyudi mengalami sejumlah luka di tubuh mereka. Cindy mengalami luka di bagian perut (antara bawah pusat dan atas kemaluan), bibir pecah. Sementara Syahyudi mengalami luka di dada bagian atas.

Kasus inipun akhirnya berujung ke polisi. Keduanya melaporkan penganiayaan yang mereka alami itu ke Polrestabes Medan, sesuai bukti lapor No.STTLP/2198/K/X/2018/SPKT Restabes Medan, tanggal 6 Oktober 2018 atas nama Cindy Claudyana Sembiring K atas dugaan tindak pidana penganiyaan. Sementara laporan milik Syahyudi No.STTLP/2191/K/X/2018/SPKT Restabes Medan tanggal 5 Oktober 2018 atas dugaan tindak pidana secara bersama-sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang atau penganiayaan.

Sementara Bagoes Maulana, Kasek SMA YPSA yang dikonfirmasi wartawan via seluler, membenarkan adanya penganiayaan terhadap kedua guru di sekolah tersebut. 

"Iya, benar," jawabnya.

Wartawan yang terus mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan, Bagoes kemudian bersedia memberikan jawaban. 

"Kita juga mengecam penganiayaan itu. Tapi ini kan dunia pendidikan, kalau bisa dimediasi, jangan sampai ke ranah hukum," katanya lagi.

Ketika disinggung kasus itu sudah dilaporkan kePolrestabes Medan, dia mempersilakannya. 

"Kalau secara pribadi guru-guru (Cindy dan Syahyudi) melapor ke polisi, itu hak mereka. Kalau kita (pihak sekolah) akan meminta yang bersangkutan meminta maaf kepada sekolah dan para siswa," katanya lagi.

Ditanya lagi, Sofyan Raz selaku pemilik sekolah marah besar mengetahui penganiayaan itu, Bagoes juga membenarkannya. 

"Jangankan Pak Sofyan Raz, kami juga tidak terima atas penganiayaan itu. Tapi begitupun, nanti akan coba dimediasi, dan harus meminta maaf kepada seluruh pihak sekolah, termasuk para siswa," ungkapnya.

Mengenai hukuman pemecatan terhadap Cindy dan skorsing kepada Syahyudi, Bagoes Maulana juga membenarkannya. Dia 
juga mengakui, kepad MHS juga diberi hukuman sesuai kesalahan. Namun sayangnya, Bagoes tak menyebut sanksi seperti apa yang akan diberikan kepada MHS. 

"Kalau untuk wali kelas (Cindy), kita kan ada aturannya. Tidak boleh main pukul. Dia juga masih masa training, dan pas ini tiga bulan. Jadi tidak bisa dilanjutkan. Kalau untuk Pak Syahyudi, beliau kan sudah guru tetap di sini. Kita beri skorsing. Untuk siswa (MHS), kita juga beri hukuman sesuai kesalahannya," jelasnya. (17M.05) Sumber : 17Merdeka.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Prestasi 2012

SMP N1 Tinggi Raja Juara 3 Drumband Pesta Danau Toba

MAHASISWA UMN HANYUT DI PEMANDIAN BEDENG AEK SONGSONGAN